Penyelenggaraan ISCOMICE tahun ini sekaligus sebagai rangkaian perayaan 20 tahun eksistensi Program Studi MICE Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) dalam menghasilkan sumber daya manusia unggul di industri ini.
Hadir sebagai pembicara Professor Dr. Noel Scott, Ph.D. dari Edith Cowan University, Dr. Eunjung Kim, Ph.D dari Edith Cowan University, dan April Layla Joseph dari Institute for Sustainable Events.
Menurut Iqbal, isu sustainability (keberlanjutan) sangat penting untuk dibahas saat ini bukan semata karena menyangkut kelangsungan hidup manusia, alam, dan generasi mendatang tapi juga tentang keunggulan kompetitif saat ini yaitu terkait efisiensi, inovasi, dan daya saing ekonomi.
Ramainya pemberitaan mengenai pertambangan di pulau-pulau Raja Ampat, Papua Barat Daya beberapa waktu lalu menjadi contoh betapa sikap ekspolitatif seperti itu telah menjadi ancaman nyata yang kita hadapi.
Dalam hal ini MICE adalah solusinya. MICE bisa secara langsung terlibat dalam mengurangi dampak negatif dengan mengendalikan jejak karbon dan limbah saat menyelenggarakan kegiatan MICE. Kemudian secara bersamaan MICE mendorong edukasi dan advokasi isu hijau (green), inovasi ramah lingkungan, dan memfasilitasi kolaborasi global untuk Solusi iklim.
Isu green MICE ini bukan hanya trend, tapi telah menjadi standar baru untuk menjawab tantangan global. Dalam hal ini, kita bersama Kementerian Pariwisata juga telah sering membahas mengenai konsep sustainable MICE events. Bahkan di tingkat ASEAN kita sudah memiliki apa yang disebut sebagai ASEAN Guidelines on Green Meetings.
Tantangan kita bukanlah ringan. Infrastruktur kita masih belum sepenuhnya bisa diharapkan, kapasitas SDM juga masih rendah dalam mengenai konsep green MICE, regulasi pun masih belum kuat. Bahkan dari sisi klien atau pengguna jasa penyelenggara MICE masih punya mindset yang lama yaitu masih lebih mempertimbangkan harga murah dibanding aspek keberlanjutan (sustainability).
Kita juga masih seringkali terjebak pada sloganisme, daripada berjuang untuk menjadikan green meeting sebagai karakter atau kepribadian kita. Karena itu kita butuhkan pemikiran-pemikiran dari para akademisi yang berkumpul di kegiatan ISCOMICE 2025 ini untuk bisa bertukar pandangan mengenai bagaimana kita membuat green meeting ini sebagai kepribadian yang melekat di dalam diri kita atau di dalam jiwa pelaku usaha terkait MICE.
Kemudian bagaimana membantu pemerintah membangun regulasi yang terbaik, bagaimana membangun kesadaran pelaku industri, bagaimana mendorong inovasi teknologi, dan menyatukan pemikiran untuk mengembangkan apa yang kita sebut konsep green MICE berdasarkan kearifan Indonesia yang kesemuanya berbasis penelitian.
"Dengan begitu kita juga akan bisa juga mengembangkan konsep green MICE berbasis kearifan ASEAN, misalnya. Dan bapak/ibu bisa berkontribusi untuk merekomendasikan seperti apa destinasi green meeting Indonesia. Inilah tantangan kita," kata Iqbal. (*)
