Jakarta, 26 Oktober 2026 — Indonesia Congress and Convention Association (INCCA) menilai keberhasilan penyelenggaraan berbagai event berskala besar di Jakarta, termasuk Jakarta Running Festival (JRF) 2026 pada 22–25 Oktober dan konser YE (Kanye West) pada 24 Oktober 2026, serta event-event sukses sebelumnya ini harus menjadi momentum strategis untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi utama penyelenggaraan event, business events internasional atau MICE termasuk konferensi internasional.
Berbagai event tersebut memperlihatkan besarnya potensi Indonesia untuk menarik perhatian masyarakat internasional melalui olahraga, musik, hiburan, dan pengalaman wisata perkotaan. JRF 2026 diikuti sekitar 37.000 pelari dari 48 negara, termasuk lebih dari 1.000 pelari mancanegara. Sementara itu, konser YE di Stadion Utama GBK merupakan penampilan perdana artis tersebut di Indonesia dan satu-satunya pemberhentian di Asia Tenggara dan Oseania dalam rangkaian tur 2026-nya. Konser ini dihadiri puluhan ribu penonton dari 75 negara dengan estimasi nilai tambah ekonomi ratusan miliaran rupiah.
Capaian ini bukan sekadar keberhasilan penyelenggaraan acara. Lebih jauh, ini merupakan peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara, memperbesar penerimaan devisa, menggerakkan usaha lokal, memperkuat citra destinasi, serta membangun kepercayaan penyelenggara event dan organisasi internasional terhadap kemampuan Indonesia.
Ketua Umum INCCA Iqbal Alan Abdullah menegaskan, Indonesia perlu memanfaatkan momentum secara terencana dan berkelanjutan untuk menarik wisatawan melalui event internasional, termasuk konferensi pemerintahan dan antarpemerintah (seperti KTT dan pertemuan PBB), konferensi korporasi dan dunia usaha (perusahaan multinasional, forum CEO, investor, dan pemimpin industri), serta konferensi NGO dan masyarakat sipil (organisasi nonpemerintah internasional, yayasan, jaringan masyarakat sipil, dan organisasi nirlaba).
“JRF 2026 dan konser YE membuktikan kembali bahwa Indonesia memiliki daya tarik pasar, kapasitas penyelenggaraan, serta potensi untuk menjadi tujuan event berskala internasional seperti telah kita tunjukkan selama ini, seperti suksesnya KTT G-20, Pertemuan Tahunan IMF–World Bank, World Water Forum ke-10, Asian Games XVIII, Asian Para Games 2018, ASEAN Games, FIBA World Cup, dan lainnya. Tantangan kita sekarang adalah bagaimana menjadikan momentum ini sebagai strategi nasional. Khususnya ini jadi momentum untuk sektor kongres dan konvensi untuk lebih banyak lagi kita bawa kesini, dan menjadikannya sebagai strategi ekonomi, pariwisata, dan diplomasi global,” ucap Iqbal Alan Abdullah, di Jakarta, Senin (26/10/2026).
INCCA, yang berdiri sejak 1998, menilai penyelenggaraan kegiatan internasional memiliki efek berganda terhadap perekonomian. Belanja peserta dan penonton tidak berhenti pada tiket, tetapi mengalir ke hotel, restoran, transportasi udara dan darat, pusat perbelanjaan, tempat wisata, UMKM, penyewaan peralatan, produksi panggung, tenaga kerja kreatif, jasa keamanan, hingga layanan profesional.
Sebagai gambaran, kegiatan penyelenggaraan KTT G20 tahun 2022 di Indonesia menghasilkan total nilai tambah ekonomi sekitar 533 juta Dolar AS atau setara Rp7,4 triliun hingga Rp7,47 triliun, sedangkan untuk Pertemuan Tahunan IMF–World Bank mencapai Rp6,9 triliun; World Water Forum 10 Tahun 2024 diikuti lebih dari 50 ribu orang dari 160 negara dengan nilai ekonomi mencapai Rp1,38 triliun.
Selain itu, penyelenggaraan konferensi, kongres, konvensi, atau KTT internasional turut memperkuat citra Indonesia di mata dunia, memperluas publikasi internasional, serta mendorong peningkatan infrastruktur dan fasilitas publik, membuka peluang diplomasi, pertukaran pengetahuan, promosi investasi, kerja sama perdagangan, kerja sama pendidikan, dan penguatan posisi Indonesia dalam jaringan internasional.
INCCA menilai Jakarta berpeluang besar menjadi tuan rumah konferensi internasional dan KTT berkat konsentrasi hotel, fasilitas pertemuan, konektivitas penerbangan, pusat bisnis, kantor perwakilan negara, serta kedekatan dengan institusi pemerintahan, tetapi Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan gedung dan hotel—pemerintah harus aktif menawarkan diri sebagai tuan rumah, mendekati organisasi internasional, dan mendukung bidding yang dilakukan Professional Conference Organizer (PCO) serta asosiasi nasional.
“Konferensi internasional tidak selalu datang dengan sendirinya. Banyak agenda dunia ditentukan melalui proses bidding yang kompetitif, hubungan kelembagaan, kesiapan destinasi, dan kepastian dukungan pemerintah. Karena itu, asosasi internasional dan PCO Indonesia harus ditempatkan sebagai mitra strategis dalam diplomasi ekonomi dan promosi internasional,” tegas Iqbal.
INCCA juga mendorong pemerintah memetakan konferensi dan KTT yang berpotensi diselenggarakan di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan, termasuk agenda di bidang ekonomi, kesehatan, teknologi, energi, perubahan iklim, industri, pariwisata, pendidikan, dan perdagangan internasional, dengan proaktif untuk menjalin kerja sama asosiasi-asosiasi internasional, dan bahkan mendorong anak-anak bangsa untuk menduduki posisi penting di asosiasi-asosiasi internasional tersebut.
INCCA menilai Indonesia perlu meningkatkan daya saing sebagai destinasi event bukan hanya lewat harga kompetitif, tetapi juga kualitas layanan, aksesibilitas, profesionalisme PCO, kesiapan venue, keamanan, kepastian regulasi, dukungan pemerintah dan upaya aktif merebut agenda internasional.
Kemudian, menurut Iqbal, ada beberapa langkah prioritas untuk dilakukan: pembentukan mekanisme koordinasi nasional untuk bidding, penyediaan dana dukungan dan insentif berbasis hasil, penyusunan kalender nasional event internasional, penguatan diplomasi ekonomi dan event, jaminan kemudahan perizinan dan kepastian penyelenggaraan, peningkatan kapasitas PCO dan rantai pasok nasional, serta pembangunan sistem pengukuran dampak ekonomi dan sosial. (*)
